Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
Pengurus MW KAHMI Sumut 2026-2031
Di tengah dinamika kehidupan kebangsaan yang semakin kompleks, sosok ulama tidak lagi hanya hadir dalam ruang-ruang keagamaan. Sebagian di antaranya tumbuh menjadi simpul penting yang mempertemukan kepentingan spiritual, kemanusiaan, kebangsaan, bahkan kehidupan sosial dan politik.
Salah satu sosok yang menarik untuk dicermati adalah Tuan Guru Batak II, Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, M.A. Tokoh yang akrab disapa Tuan Guru Batak (TGB) ini merupakan salah satu alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Medan yang kemudian menapaki jalan pengabdian spiritual dengan akar yang kuat di Tanah Batak, khususnya Simalungun.
Perjalanan TGB memperlihatkan bahwa pengabdian seorang kader HMI tidak selalu harus berlangsung di panggung politik praktis, dunia bisnis, maupun institusi pemerintahan. Ada ruang pengabdian yang jauh lebih sunyi, tetapi memiliki pengaruh yang mendalam terhadap pembentukan karakter manusia, yakni dunia spiritual dan kemanusiaan.
Dari HMI Menuju Jalan Pengabdian Spiritual
Sebagai alumni HMI, Syeikh Ahmad Sabban Rajagukguk menjalani perjalanan intelektual dan spiritual yang memiliki warna tersendiri. Ia tidak sekadar menempatkan agama sebagai pengetahuan, tetapi menjadikannya sebagai jalan pengabdian dan pembentukan manusia.
Kiprahnya sebagai tokoh spiritual Sufi dari Tanah Batak menjadikan TGB memiliki posisi yang unik. Di satu sisi, ia dikenal dalam ruang dakwah dan spiritualitas; di sisi lain, ia juga memainkan peran sosial-kebangsaan melalui pendekatan yang menekankan kerukunan, kemanusiaan, dan persatuan.
Kehadirannya juga kerap dipandang sebagai jembatan antara masyarakat dengan berbagai elemen kekuatan sosial. Kepentingan rakyat kecil, pemerintah, tokoh masyarakat, hingga kalangan pengusaha dapat dipertemukan melalui ruang komunikasi yang lebih terbuka dan humanis.
Dalam konteks inilah, TGB tidak hanya dipahami sebagai seorang guru spiritual, tetapi juga sebagai tokoh sentral yang memiliki daya pengaruh sosial.
Tempat Bertanya Para Tokoh
Ketokohan seseorang tidak selalu dapat diukur melalui jabatan formal yang melekat pada dirinya. Ada tokoh yang justru memiliki pengaruh karena kebijaksanaan, pengalaman, keteladanan, dan kemampuannya memberikan perspektif ketika masyarakat maupun para pemimpin menghadapi persoalan.
Dalam konteks tersebut, Tuan Guru Batak menjadi salah satu figur yang memiliki daya tarik tersendiri. Tidak sedikit tokoh dari berbagai latar belakang yang datang untuk berdiskusi, meminta pandangan, bahkan mencari nasihat mengenai persoalan kehidupan, kebangsaan, sosial, hingga dinamika politik.
Nasihat seorang tokoh spiritual tentu memiliki karakter yang berbeda dengan kalkulasi politik praktis. Ia berangkat dari dimensi moral, etika, kemanusiaan, dan pertimbangan yang lebih panjang tentang akibat dari sebuah keputusan.
Di sinilah kekuatan seorang Tuan Guru Batak menemukan relevansinya.
Ia tidak harus berada di dalam struktur kekuasaan untuk memberikan pengaruh terhadap orang-orang yang berada di sekitar kekuasaan. Bahkan, terkadang suara yang paling didengar justru datang dari ruang yang jauh dari hiruk-pikuk perebutan kepentingan.
Menjalankan Misi Ketuhanan dan Kemanusiaan
Sebagai seorang tokoh spiritual Sufi, TGB menjalankan apa yang dapat dipandang sebagai misi ketuhanan sekaligus misi kemanusiaan.
Misi ketuhanan diwujudkan melalui dakwah, pembinaan spiritual, pendidikan keagamaan, dan perjalanan tarekat. Sementara misi kemanusiaan hadir melalui kepedulian terhadap penderitaan masyarakat dan upaya membangun kehidupan sosial yang lebih bermartabat.
Dengan demikian, spiritualitas yang dijalankan TGB tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Spiritualitas juga diterjemahkan ke dalam hubungan horizontal antarmanusia.
Sebab, pada akhirnya, kedalaman spiritual seseorang semestinya tercermin dalam seberapa besar ia mampu menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.
Dalam perspektif tersebut, pengabdian TGB dapat dibaca sebagai usaha membebaskan manusia dari berbagai bentuk penderitaan—baik penderitaan lahiriah maupun keterasingan batiniah.
HMI dan Ruang Pengabdian yang Lebih Sunyi
Menurut pandangan penulis, perjalanan TGB sebagai alumni HMI memperlihatkan sebuah perspektif menarik tentang makna pengabdian kader.
HMI selama ini dikenal sebagai salah satu organisasi mahasiswa yang banyak melahirkan tokoh bangsa dalam berbagai bidang. Para alumninya tersebar di dunia politik, pemerintahan, akademik, profesional, bisnis, media, organisasi kemasyarakatan, dan berbagai ruang pengabdian lainnya.
Namun, ada satu ruang yang sering kali luput dari pembicaraan: ruang spiritual.
TGB memperlihatkan bahwa nilai-nilai perkaderan HMI dapat menemukan bentuk pengabdian yang berbeda ketika seorang kader memilih jalan spiritual sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Ia tidak selalu harus berada di tengah gemuruh kekuasaan untuk menjalankan nilai-nilai keumatan dan kebangsaan. Ada kalanya pengabdian justru berlangsung dalam suasana yang lebih tenang: membimbing manusia, mendidik jiwa, menanamkan nilai, memberikan nasihat, serta membangun kesadaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.
Ruang inilah yang oleh penulis dapat disebut sebagai “ruang pengabdian yang lebih sunyi”, tetapi bukan berarti kehilangan kekuatan.
Justru dalam kesunyian tersebut, pengaruh dapat tumbuh secara lebih mendalam.
TGB dan Keluarga Besar KAHMI Sumatera Utara
Meskipun kiprah TGB tidak selalu membawa simbol formal organisasi KAHMI dalam setiap aktivitasnya, posisi beliau sebagai Dewan Penasihat KAHMI Sumatera Utara menunjukkan adanya hubungan yang kuat dengan keluarga besar alumni HMI.
Karena itu, di tengah masyarakat, TGB tidak semata-mata dipandang sebagai seorang ulama atau guru tarekat. Latar belakang perkaderannya di HMI juga menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual dan sosialnya.
Hal ini memperlihatkan bahwa identitas seorang alumni HMI dapat berkembang melampaui batas-batas organisasi formal. Nilai-nilai yang diperoleh selama masa perkaderan dapat dibawa ke berbagai ruang pengabdian, termasuk ruang dakwah dan spiritualitas.
Pada titik inilah ketokohan TGB menjadi menarik untuk dilihat dalam perspektif yang lebih luas.
Ia adalah alumni HMI yang memilih jalan spiritual, tetapi tetap memiliki perhatian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.
Ketika Alumni HMI Menjadi Mursyid Tarekat
Salah satu hal yang menurut penulis cukup unik adalah posisi TGB sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.
Di Indonesia, alumni HMI yang kemudian tampil sebagai pimpinan atau guru tarekat bukanlah fenomena yang umum dibicarakan. Padahal, alumni HMI yang kemudian menjadi tokoh dan pimpinan di berbagai organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan Al-Washliyah dapat ditemukan dalam jumlah yang cukup besar.
Karena itu, kehadiran seorang alumni HMI yang kemudian menjalankan peran sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah memberikan warna tersendiri dalam perjalanan kaderisasi dan pengabdian alumni HMI.
Fenomena ini sekaligus membuka ruang refleksi bahwa pengabdian alumni HMI tidak seharusnya dipersempit hanya pada politik dan bisnis.
Dunia spiritual juga merupakan ruang pengabdian yang memiliki kompleksitas tersendiri.
Menjadi guru spiritual berarti berhadapan langsung dengan persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia: tentang makna hidup, akhlak, ketenangan batin, hubungan manusia dengan Tuhan, serta bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Pertemuan Nilai HMI dan Spiritualitas Naqsyabandiyah
Jika ditelaah dari sisi cita-cita, terdapat titik temu yang menarik antara semangat perkaderan HMI dan jalan spiritualitas.
HMI menempatkan pembentukan manusia yang memiliki kualitas intelektual, keislaman, dan tanggung jawab sosial sebagai bagian penting dari tujuan perkaderannya. Sementara jalan spiritual menekankan pembentukan batin, akhlak, kedekatan kepada Allah SWT, dan pengendalian diri.
Keduanya dapat bertemu dalam satu prinsip: manusia yang berilmu harus memiliki akhlak, dan manusia yang memiliki kekuatan spiritual harus menghadirkan kemanfaatan bagi kehidupan.
Karena itu, menjadi alumni HMI bukan sekadar persoalan identitas organisasi. Ke-HMI-an idealnya tercermin dalam orientasi pengabdian dan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta ketuhanan.
Dalam konteks inilah perjalanan TGB dapat menjadi bahan refleksi bagi generasi muda HMI dan alumni HMI.
Bahwa setelah keluar dari kampus dan menyelesaikan proses perkaderan, jalan pengabdian masih sangat panjang dan terbuka luas.
Ada yang memilih politik.
Ada yang memilih pemerintahan.
Ada yang memilih dunia usaha.
Ada yang memilih akademik.
Ada yang memilih dakwah.
Dan ada pula yang memilih jalan spiritual.
Semua memiliki ruang masing-masing selama orientasinya tetap diarahkan kepada kemaslahatan umat dan kehidupan yang diridai Allah SWT.
Dari Tanah Batak untuk Indonesia
Tuan Guru Batak bukan sekadar sebuah panggilan. Di balik sebutan tersebut terdapat perjalanan panjang seorang tokoh dalam membangun hubungan antara spiritualitas, kebudayaan lokal, dakwah, kemanusiaan, dan kebangsaan.
Berakar dari Tanah Batak, TGB menunjukkan bahwa spiritualitas lokal dapat berjalan beriringan dengan semangat kebangsaan yang lebih luas.
Di tengah masyarakat yang semakin gaduh oleh perbedaan kepentingan, politik identitas, dan kompetisi kekuasaan, kehadiran tokoh spiritual yang mampu menjadi ruang bertemu berbagai kelompok menjadi semakin penting.
Barangkali inilah salah satu makna penting dari perjalanan Tuan Guru Batak: bahwa kekuatan seorang tokoh tidak selalu lahir dari jabatan, tetapi dari kepercayaan. Tidak selalu berasal dari kekuasaan, tetapi dari keteladanan. Dan tidak selalu dibangun melalui panggung yang ramai, tetapi melalui pengabdian yang konsisten.
Sebagai alumni HMI, TGB memperlihatkan wajah lain dari perjalanan kader bangsa: sebuah jalan pengabdian yang lebih hening, tetapi memiliki kedalaman.
Dari ruang spiritual itulah nasihat dapat lahir, ketenangan dapat dibangun, dan manusia dapat kembali diingatkan bahwa di atas segala kepentingan duniawi, terdapat tanggung jawab yang lebih besar kepada Tuhan dan kepada sesama manusia.
Pada akhirnya, politik membutuhkan kebijaksanaan, kekuasaan membutuhkan moral, dan pembangunan membutuhkan manusia yang memiliki keteguhan spiritual. Di titik itulah sosok Tuan Guru Batak menemukan relevansinya sebagai salah satu figur spiritual dari Tanah Batak yang layak diperbincangkan dalam konteks kehidupan kebangsaan Indonesia.(Team)







