Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

PEMRED

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TINDAK TUTUR ORANGTUA MEMPENGARUHI TERBENTUKNYA MENTAL ANAK: FORENSIK LINGUISTIK PERSPEKTIF

Kamis, 26 Februari 2026 | Februari 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-26T16:21:03Z
TINDAK TUTUR ORANGTUA MEMPENGARUHI TERBENTUKNYA MENTAL ANAK: FORENSIK LINGUISTIK PERSPEKTIF
Penulis: Fifi Safreni, Februari 2026

Pola asuh orangtua melekat pada seorang anak. Cara orangtua berkomunikasi yaitu tindak tutur yang di tuturkan secara terus menerus berpotensi menjadi kebiasaan dan mempengaruhi cara berfikir dan perilaku seorang anak. Ayah atau ibu yang di masa kecilnya selalu mendengar dan menggunakan kata – kata kasar dan menggunakan intonasi yang tinggi maka akan menurunkan habit tersebut kepada anak – anaknya. Akibatnya anak – anak juga akan memiliki perilaku yang sama bahkan lebih kasar dan menggunakan intonasi lebih tinggi.

Seorang anak yang berperilaku kasar, mudah marah dan kurang berempati cenderung melakukan hal yang negatif seperti suka membully, membentak dan memungkinkan melakukan kekerasan baik secara verbal maupun non verbal seperti memukul dan berkelahi. Maka daya fikir anak juga terpengaruh sebab ranah empati, sopan santun dan etika menjadi terhambat perkembangannya. Tidak heran mereka akan sulit mendapatkan prestasi di bidang akademis maupun non akademis. Secara medis hal ini juga akan berpengaruh pada kesehatan mentalnya dan psikisnya dimana kwalitas istirahat dan konsentrasinya menjadi terganggu oleh rasa was – was, amarah ataupun ambisi.

Tindak tutur orangtua bermakna mendikte, mencaci, mengejek, menghakimi dan membandingkan sangat tidak tepat dalam pola asuh. Jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama maka karakter dan mental si anak akan terbentuk sesuai dengan doktrin yang ia terima. Seorang anak yang terbiasa di dikte tanpa di minta pendapatnya maka ia akan tumbuh dalam keraguan dan tidak percaya diri. Ia akan sulit untuk menentukan pilihan apalagi mengambil keputusan. Lain halnya seorang anak yang terbiasa dengan makna kata cacian, ejekan dan menghakimi maka ia akan memiliki rasa percaya diri yang rendah, ia menilai bahwa dirinya tidak berharga sangat jauh jiwa kompetitif dan takut untuk mencoba dan mungkin menjadi pribadi penakut. Bahkan lebih parah lagi pola asuh orangtua yang selalu menggunakan perkataan membandingkan ‘dia lebih …’ sangat mempengaruhi si anak terhadap kepercayaan diri dan sianak cenderung tidak menyukai orang dan hal yang telah dibandingkan terhadapnya.

Dari forensik lingsitik perspektif bahwa perkataan seperti “ Bodoh”, “Bandel”, “Nakal”, “Jahat”, “Kamu Salah”, “Kamu Kalah Dari…”, “Kamu Tidak Mampu”, “Kamu Ini Bisanya Cuma Bikin Mama Marah!” “Jangan Menangis!” atau “Gak Boleh Nangis!” “Nurut Kata Mama!” “Jangan Diam Saja! Gunakan Mulutmu untuk Bicara!” "Kamu itu Bisanya Apa sih?!" sangat disarankan untuk dihindari. Apalagi menggunakan hardikan ataupun membentak dengan kata – kata kotor. Secara mental mereka akan terganggu. 

Pendekatan Pragmatik dari forensik lingusitik perspektif memaknai arti kata dari siapa penutur. Dimana pragmatik adalah makna kata dari si penutur dan penutur menginginkan pendengar untuk melakukan tindakan. Menurut Yule (1996:3), pragmatik adalah studi tentang ucapan yang dikomunikasikan oleh seorang pembicara dan ditafsirkan oleh pendengar. Itu sebabkan jika orangtua secara terus menerus menggunakan tindak tutur yang mendikte, mencaci, mengejek, menghakimi dan membandingkan maka persepsi anak adalah mereka telah diinginkan oleh orangtuanya ataupun mereka meyakinkan dirinya sendiri menjadi serupa maknanya dengan makna dari yang dituturkan orangtua mereka, karena apa, karena mereka mendengar tindak tutur itu dari orangtua mereka sendiri. Sosok yang seharusnya menumbuhkan rasa aman, rasa percaya dan memotivasi mereka. Hal inilah yang mengakibatkan dan menjadi dasar lambat laun menurunnya rasa empati, sopan santun dan etika. 

Jika seorang anak telah terdoktrin bahwa dia lemah, dia bodoh, dia nakal, dia pasti tidak mampu maka pengaruhnya akan terbentuk mental yang tidak menginginkan untuk berprestasi, menolerir kata – kata kasar dan tindakan kekerasan, tidak dapat melihat kesempatan untuk maju. Akibatnya ia akan melakukan hal – hal sama yang itu terbiasa dengan perkataan yang bermakna negatif bahkan sering melakukan kesalahan, tidak sopan bahkan dapat melakukan tindakan kekerasan atau kejahatan. Secara analisa psikolingusitik bahwa traumatik seseorang dapat dibawa dari hal yang melekat yaitu lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Sebaliknya, pola asuh yang mempraktekkan penggunaan perkataan yang bermakna baik, pujian, kepercayaan, kesempatan, kasih sayang, dorongan bahkan membantu melihat kesempatan sangat disarankan dilakukan dari anak usia dini sampai remaja dan dewasa. Pengaruhnya juga sama seperti diatas yaitu anak akan memiliki empati karena selalu mendengar kata – kata cinta kasih, percaya diri karena pernyataan percaya dan motivasi dan semangat untuk berprestasi. Umumnya jika ini terjadi dalam sebuah keluarga kemampuan setiap anak akan terlihat, ia akan memiliki keahlian karena banyaknya menerima kepercayaan dan kesempatan dan akhirnya ketika ia dewasa akan membantunya mendapatkan banyak peluang. 

Sebagai orangtua. Pola asuh dari rumah adalah dasar terbentuknya karakter dan mental anak. Jangan pernah mengabaikan untuk bertindak tutur dengan makna yang posisit walaupun ketika hendak menegur ataupun marah. Sebab kebiasaan akan melekat dan dibawa dalam kehidupan. Memiliki tindak tutur yang baik akan membentuk karakter yang baik pula bahkan keuntungannya terbentuknya pribadi yang percaya diri, berempati dan beretika.(Team)
×
Berita Terbaru Update